Yayasan Dakwah Islam Daar El Dzikir insya Allah akan mengadakan tes seleksi guru baru SD Unggulan Daar El Dzikir tahun ajaran 2011-2012 pada Sabtu tanggal 14 Mei 2011
berikut tes yang akan kami adakan:
1. tes administrasi (seleksi berkas lamaran)
2. tes tertulis materi dasar pengetahuan agama islam
3. tes tertulis materi (paedagogik) pengetahuan kependidikan
4. tes tertulis materi pengetahuan umum (matematika, bahasa indonesia, ipa, ips, bahasa inggris)
5. tes tertulis materi diniyah tingkat lanjutan (khusus bagi guru diniyah)
Sabtu, 30 April 2011
info lowongan guru
![]() |
| tes penerimaan guru |
syarat:
1. Muslim
2. Usia Maximal 30 tahun
3. S1 diutamakan keguruan/kependidikan
4. Pengalaman mengajar (diutamakan)
5. Sabar, berjiwa pendidik
6. Siap menjadi guru di SDU Daar El Dzikir mulai bulan Juli tahun 2011
Memahami nama 'As-Syafi'
Nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Mahaagung ini disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang shahih. Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu membacakan doa perlindungan kepada salah seorang (anggota) keluarga beliau (dengan) mengusapkan tangan kanan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau membaca (doa),
“Ya Allah Rabb (pencipta dan pelindung) semua manusia, hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah, Engkau adalah asy-Syaafi (Yang Maha Penyembuh), tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan (dari)-Mu, kesembukan yang tidak meninggalkan penyakit (lain).” (Hadits shahih riwayat al-Bukhari, no. 5311 dan Muslim, no. 2191).
« اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَاسَ ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِى ، لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا »
“Ya Allah Rabb (pencipta dan pelindung) semua manusia, hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah, Engkau adalah asy-Syaafi (Yang Maha Penyembuh), tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan (dari)-Mu, kesembukan yang tidak meninggalkan penyakit (lain).” (Hadits shahih riwayat al-Bukhari, no. 5311 dan Muslim, no. 2191).
Senin, 25 April 2011
Senin, 11 April 2011
Biro Travel Haji Plus dan Umroh di kota Solo
Tempat Informasi dan Pendaftaran
PT IBNU HAJAR PERSADA
Islamic Center Imam Ibnu Hajar Jakarta
Jl. Musholah Fathul Ulum No.11, Munjul, Cipayung, Jakarta Timur.
website: www.hajiumrohibnuhajar.com
E-Mail: hajiumrohibnuhajar@gmail.com
Islamic Center Imam Ibnu Hajar Jakarta
Jl. Musholah Fathul Ulum No.11, Munjul, Cipayung, Jakarta Timur.
website: www.hajiumrohibnuhajar.com
E-Mail: hajiumrohibnuhajar@gmail.com
Agen Perwakilan di Kota Solo dan Kabupaten Sukoharjo, Wonogiri, Klaten, Karanganyar, Sragen)
Yayasan Dakwah Islam Daar El Dzikir
Soronanggan Rt 03/05 Desa Bulu
Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah
Telepon: 0271-8067730
HP: 0877 3616 3030 atau 085 291 606010 (Sayyid Andi Ismail)
HP: 0877 3616 3030 atau 085 291 606010 (Sayyid Andi Ismail)
Email: Sayyidandiismail@gmail.com
Jumat, 08 April 2011
Alam semesta dan fitrahnya dalam tunduk dan patuh kepada Allah
Banyak dalil yang menetapkan Rububiyah
Allah baik dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Setiap dalil yang menyebutkan kata
Rabb, atau menyebutkan kehususan Rububiyah seperti mencipta, memberi rizki,
mengatur, menguasai, dan lain-lain, maka itu adalah dalil Rububiyah Allah.
Seperti firman Allah:
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta
alam. (QS. AlFatihah : 2)
Artinya:
Ingatlah, menciptakan dan memerintah
hanyalah hak Allah. (QS. Al-A’raf : 54)
Allah memerintahkan hambaNya untuk
memperhatikan dan memikirkan tanda-tanda dari ciptaan-ciptaanNya yang
menunjukkan rububiyah Allah sebagaimana firman Allah:
Artinya:
Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda
(kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin.
Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka
apakah kamu tidak memperhatikan?
(QS. Adz-Dzariyat: 20-21)
(QS. Adz-Dzariyat: 20-21)
Para ulama berdalil atas Rububiyah Allah
dengan ayat-ayat kauniyah.
Ayat-ayat kauniyah adalah tanda-tanda
kebesaran Allah yang tampak dari alam semesta.
Allah mengabarkan bahwa bahwa di bumi
banyak sekali tanda-tanda kebesaran Allah, dari bermacam-macam tumbuhan,
binatang-binatang , gunung, gurun, kerikil, lautan, dan sungai-
sungai.
Begitu pula dengan penciptaan manusia,
dari penyusunan anggota tubuh sesuai pada tempat yang dibutuhkan, perbedaan
bahasa, warna kulit, akal, pemahaman, dan gerakan.
Bahkan dari sejak penciptaan manusia
mulai dari setitik air, hingga ditiupkan ruh sehingga ia mendengar dan melihat.
Kemudian ia dilahirkan dari dari perut ibunya dalam keadaan kecil, lemah,
setiap bertambah usianya semakin sempurnalah kekuatannya dan gerakannya
sehingga ia mampu membangun kota dan istana. Ia mampu melakukan perjalanan dari
satu negeri ke negeri lain, bekerja dan mendapatkan harta. Ia memiliki ilmu,
akal, pikiran. Itu semua karena merupakan kesempurnaan karya Allah yang maha
mencipta.
Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah:
163-164:
Artinya:
163.
Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia
yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
164.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam
dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia,
dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia
hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala
jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan
bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum
yang memikirkan.
Pada ayat pertama Allah menyebutkan
tentang Tauhid Uluhiyah, kemudian Allah menyebutkan sebagian tanda-tanda RububiyahNya.
Allah juga berfirman dalam surat
Al-Ghasyiyah ayat 17-20:
r
Artinya:
17.
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan,
18.
Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?
19.
Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?
20.
Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?
عن ابن
مسعود رضي الله عنه قال : قلت يا رسول الله
أي ذنب أكبر عند الله ؟ قال :{ أن تجعل لله ندا وهـو خلقـك} متفق عليه
Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata
: Aku bertanya, Wahai Rasulullah! Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?
Beliau menjawab: Engkau menjadikan sekutu bagi Allah padahal Allah yang
menciptakanmu. (Muttafaqun ‘alaih)
Latihan
1. Apa makna Tauhid Rububiyah?
2.
Orang-orang musyrik
mengakui jenis Tauhid Rububiyah ini, sebutkan dalilnya!
3. Apakah hanya dengan
mengakui Tauhid Rububiyah seseorang dapat masuk agama Islam? Jelaskan!
4.
Bagaimanakah kita
membuktikan bahwa Allah itu ada?
5.
Jelaskanlah
diantara tanda-tanda kebesaran Allah lewat ayat-ayat kauniyah!
Rabu, 06 April 2011
Perjanjian Hudaibiyah
Seputar Perjanjian al-Hudaibiyah (Akhir Tahun 6 H)
Sabtu, 02 Juli 05
Sabtu, 02 Juli 05
“Kemudian Rasulullah menetap di Madinah selama bulan Ramadhan dan Syawal. Pada bulan Dzulqa’dah, beliau keluar dari Madinah untuk berumrah dan tidak menginginkan perang.*
“Rasulullah mengajak orang-orang Arab dan orang-orang Badui yang ada di sekitar beliau untuk pergi bersama beliau, karena khawatir orang-orang Quraisy memerangi atau melarang beliau mengunjungi Baitullah. Banyak sekali orang-orang Badui yang menolak ajakan beliau. Kendati begitu, beliau tetap berangkat bersama para sahabat dari kaum Muhajirin, para sahabat dari kaum Anshar, dan orang-orang Arab lainnya. Beliau membawa hewan sembelihan (onta)** dan berpakaian ihram untuk umrah agar manusia merasa aman dan mengetahui beliau keluar untuk mengunjungi Baitullah dan mengagungkannya”.
“Rasulullah berjalan dan ketika tiba di ‘Usfan (sebuah tempat lebih kurang dua marhalah sebelum masuk kota Makkah), beliau bertemu Bisyr bin Sufyan al-Ka’bi.
“Rasulullah mengajak orang-orang Arab dan orang-orang Badui yang ada di sekitar beliau untuk pergi bersama beliau, karena khawatir orang-orang Quraisy memerangi atau melarang beliau mengunjungi Baitullah. Banyak sekali orang-orang Badui yang menolak ajakan beliau. Kendati begitu, beliau tetap berangkat bersama para sahabat dari kaum Muhajirin, para sahabat dari kaum Anshar, dan orang-orang Arab lainnya. Beliau membawa hewan sembelihan (onta)** dan berpakaian ihram untuk umrah agar manusia merasa aman dan mengetahui beliau keluar untuk mengunjungi Baitullah dan mengagungkannya”.
“Rasulullah berjalan dan ketika tiba di ‘Usfan (sebuah tempat lebih kurang dua marhalah sebelum masuk kota Makkah), beliau bertemu Bisyr bin Sufyan al-Ka’bi.
Selasa, 05 April 2011
Teladan Akhlak Ulama Masa Kini 3
Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr, hafizhahullah
Oleh: Abu Abdil Muhsin Firanda)
Oleh: Abu Abdil Muhsin Firanda)
Uang ini Bukan dari Saya, tetapi dari Orang Lain
Dan, kisah berikut ini sebenarnya tidak ingin saya sampaikan, bahkan mungkin tidak boleh saya sampaikan. Akan tetapi karena melihat faedah yang begitu besar maka saya nekat menyampaikannya. Semoga Allah memaafkan saya.
Syaikh pernah memberikan bantuan kepada salah seorang ikhwah berupa sejumlah uang karena waktu itu ada yang mengabarkan kepada beliau bahwasanya istri ikhwan tersebut telah melakukan operasi caesar. Maka tatkala beliau masuk kelas untuk mengisi kuliah, dan melihat ikhwan tersebut hadir di kuliah, beliau berkata kepada ikhwan tersebut dengan suara lirih, “Fulan, saya ingin berbicara denganmu setelah pelajaran.”
Setelah selesai pelajaran, seperti biasa para mahasiswa berkumpul di sekeliling beliau untuk menanyakan permasalahan-permasalahan agama, dan si ikhwan juga mengikuti beliau. Hingga saat mahasiswa bubar meninggalkan beliau maka beliau pun mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya kepada si ikhwan tersebut sembari berkata, “Uang ini bukan hanya dari saya, tapi dari beberapa orang baik. Saya harap jangan kau ceritakan kepada siapa pun juga, dan lupakanlah pemberian saya ini. Anggap saja seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa.”
Subhanallah! Lihatlah dua pelajaran yang bisa kita ambil dari perkataan beliau ini.
Dan, kisah berikut ini sebenarnya tidak ingin saya sampaikan, bahkan mungkin tidak boleh saya sampaikan. Akan tetapi karena melihat faedah yang begitu besar maka saya nekat menyampaikannya. Semoga Allah memaafkan saya.
Syaikh pernah memberikan bantuan kepada salah seorang ikhwah berupa sejumlah uang karena waktu itu ada yang mengabarkan kepada beliau bahwasanya istri ikhwan tersebut telah melakukan operasi caesar. Maka tatkala beliau masuk kelas untuk mengisi kuliah, dan melihat ikhwan tersebut hadir di kuliah, beliau berkata kepada ikhwan tersebut dengan suara lirih, “Fulan, saya ingin berbicara denganmu setelah pelajaran.”
Setelah selesai pelajaran, seperti biasa para mahasiswa berkumpul di sekeliling beliau untuk menanyakan permasalahan-permasalahan agama, dan si ikhwan juga mengikuti beliau. Hingga saat mahasiswa bubar meninggalkan beliau maka beliau pun mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya kepada si ikhwan tersebut sembari berkata, “Uang ini bukan hanya dari saya, tapi dari beberapa orang baik. Saya harap jangan kau ceritakan kepada siapa pun juga, dan lupakanlah pemberian saya ini. Anggap saja seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa.”
Subhanallah! Lihatlah dua pelajaran yang bisa kita ambil dari perkataan beliau ini.
Yang pertama, beliau menjelaskan bahwa uang ini bukan hanya berasal dari beliau. Hal ini menunjukkan keikhlasan beliau, dan jauhnya beliau dari sikap ingin dipuji. Apalagi dipuji dengan sesuatu yang tidak beliau lakukan. Seandainya beliau tidak mengatakan demikian, tentunya saya akan mengira bahwasanya uang tersebut seluruhnya berasal dari beliau. Dan, sebenarnya beliau tidak perlu menjelaskan bahwa uang tersebut bukanlah seluruhnya dari beliau, yang penting tujuannya adalah bantuan tersampaikan kepada yang membutuhkan.
Hal semacam ini aku saksikan lagi ketika beliau di Jakarta. Saat itu, ada seseorang ustadz yang datang kepada beliau dan menceritakan kerinduannya untuk bertemu Syaikh, bahkan meskipun harus meninggalkan istrinya yang sakit dan ada kemungkinan harus dioperasi. Bahkan sampai orang tersebut menangis di hadapan Syaikh karena sudah lama dia tidak mendengar nasihat-nasihat yang berharga dari para ulama. Setelah ustadz tersebut pergi, beliau meminta salah seorang donatur kalau tidak keberatan untuk menanggung biaya operasi istri ustadz tersebut. Sang donatur pun bersedia. Setelah itu Syaikh pun menelepon sang Ustadz dan meminta nomor rekening, kemudian beliau berkata, “Kami akan mentransfer uang ke rekeningmu sejumlah lima juta rupiah. Tapi uang tersebut bukan dari saya, ada seorang donatur yang memberikannya hadiah untukmu.”
Kejadian yang lain, suatu saat ada seorang ikhwan yang mengunjungi rumah Syaikh, maka Syaikh pun bertanya, “Apakah engkau liburan di negaramu pada liburan musim panas kemarin?”
“Alhamdulillah,” jawab ikhwan tersebut.
Syaikh pun bertanya lagi, “Bagaimana keadaan ibumu? Apakah engkau bertemu dengannya?”
Maka sang ikhwan terdiam sejenak, lalu berkata, “Saya tidak sempat mengunjungi ibu saya karena tempatnya yang jauh dari ibu kota negara saya, dan saya hanya berlibur sekitar sepekan saja di sana. Jadi, saya hanya menelepon beliau.”
Syaikh pun terlihat kaget, lalu mulailah syaikh menasihati ikhwan tersebut akan pentingnya bertemu dengan ibunya bahwa itu merupakan amalan yang luar biasa di hadapan Allah. Berlinanganlah air mata sang ikhwan, bahkan semakin deras mengingat sikapnya yang salah dengan tidak menyempatkan waktu untuk mengunjungi ibunya.
Sambil terisak-isak, sang ikhwan berkata, “Saya sebenarnya ingin menemui ibu saya. Hanya saja, saya tidak punya biaya untuk pergi ke tempat beliau. Tiket pesawat cukup mahal, dan saat itu saya tidak punya uang.”
Syaikh lalu berkata, “Usahakan ibumu untuk bisa naik haji, nanti masalah biaya saya yang atur.”
Beberapa hari kemudian, Syaikh memberikan seluruh ongkos naik haji kepada sang ikhwan, sambil berkata, “Ini biaya dari salah seorang donatur.”
Demikianlah Syaikh, apabila suatu amalan kebaikan bukan berasal dari beliau maka beliau pun mengabarkannya dengan terus terang agar tidak disangka beliau yang melakukan amal tersebut.
Hal ini tentunya berbeda dengan kenyataan sebagian orang. Ada sebagian orang yang hanya berperan sebagai perantara (penyalur) dari sumbangan yang berasal dari orang lain, tetapi mereka mengesankan kepada masyarakat atau kepada penerima sumbangan seakan-akan bantuan tersebut keluar dari kantong dan usaha mereka sendiri. Bahkan, mereka menyebut-nyebut hal ini untuk mengingatkan kepada si penerima sumbangan agar jangan melupakan jasa mereka.
Apakah mereka tidak takut termasuk dalam sifat orang-orang yang tercela yang difirmankan Allah:
وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا
Mereka suka dipuji pada perkara yang tidak mereka lakukan. (Q.S. Ali Imran: 188)
Sikap buruk ini –ingin dipuji dengan sesuatu yang tidak dimiliki- telah diperingatkan dan dicela oleh Nabi dalam sabdanya :
الْمُتَشَبِّعُ بِمَا لَمْ يُعْطَ كلَابِسَ ثَوْبَيْ زُوْرٍ
“Barang siapa yang bergaya (berhias) dengan sesuatu yang tidak dia miliki maka sesungguhnya dia telah memakai dua baju kedustaan.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam shahihnya no 5219 dan Al-Imam Muslim dalam shahihnya no 2130)
Asbabul wurud hadits ini adalah:
أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي ضَرَّةً فَهَلْ عَلَيَّ جُنَاحٌ إِنْ تَشَبَّعْتُ مِنْ زَوْجِي غَيْرَ الَّذِي يُعْطِينِي
“Ada seorang wanita yang berkata kepada Nabi: ‘Wahai Rasulullah, aku memiliki madu. Bolehkah aku berhias di hadapannya dengan sesuatu yang tidak diberikan suamiku kepadaku?”
Maksudnya adalah dengan berpura-pura suaminya memberikan sesuatu kepadanya, sehingga seakan-akan suaminya lebih sayang kepadanya. Hal ini tentu akan menjadikan madunya teperdaya dan menyangka suaminya benar-benar melakukan hal tersebut.
Ada beberapa penafsiran dari kalangan ulama tentang maksud hadits ini, di antaranya:
1. Maksud Nabi dengan dua pakaian kedustaan adalah seseorang yang memakai pakaian dengan gaya pakaian ahli zuhud sehingga masyarakat yang melihatnya akan menyangka dia termasuk orang yang zuhud, padahal hakikatnya tidaklah demikian. Atas penafsiran ini, yang dimaksud Nabi dari dua kain kedustaan adalah izar dan ridda’ yang dipakai oleh orang-orang zuhud.
2. Maksud Nabi dengan dua pakaian kedustaan adalah seakan-akan dia telah menunjukkan dua kedustaan kepada dua orang lain. Penafsiran ini lebih dekat kepada asbabul wurud, karena wanita tersebut telah menampakkan dua kedustaan kepada madunya. Dusta yang pertama: dia berdusta bahwa suaminya telah memberikannya sesuatu. Dusta yang kedua: wanita tersebut menampakkan kepada madunya seakan-akan dia lebih dicintai oleh suaminya dari pada madunya, dengan dalil dia telah diberikan sesuatu dari suaminya yang tidak diberikan kepada madunya. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi 6/153-154).
Namun, maksud dari kedua tafsiran ini adalah sama dan berdekatan maknanya. Hadits yang kelihatannya sederhana ini ternyata merupakan cambuk yang sangat pedas terhadap sebagian orang yang mencoba menampakkan kepada orang lain akan kehebatan yang tidak dimilikinya. Oleh karena itu, sungguh hati ini tersayat tatkala melihat praktik sebagian kita yang terkena ancaman hadits ini. Di antara praktik-praktik yang pernah dilakukan tersebut adalah:
a. Ada yang menerjemahkan naskah ceramah atau tulisan seorang ulama, lantas dia mengesankan bahwa dialah yang telah berletih-letih menyusun tulisan tersebut. Bahkan, sebagaimana yang pernah saya lihat di sebuah tabloid Ahlus Sunah, ada yang menerjemahkan makalah seorang ulama, lantas nama ulama tersebut sama sekali tidak disebutkan. Dia dengan tanpa malu mencantumkan namanya sebagai penulis makalah tersebut. Tentunya orang awam tidak tahu akan hal ini, akan tetapi sebagian orang yang sedikit sering menelaah buku para ulama akan mengetahui hal tersebut. Sungguh, sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alihi wa sallam: “Dia telah memakai dua pakaian kedustaan.” Andaikata dia menjelaskan bahwa dia hanyalah penerjemah, tentunya itu lebih tinggi kedudukannya di sisi Allah; jujur bahwa dia sekadar penerjemah, dan jujur bahwa ilmunya belum sampai untuk menulis seperti tulisan ulama tersebut.
b. Ada juga orang yang meringkas tulisan dari buku atau makalah tentang sebuah permasalahan fikih, terutama permasalahan fiqh yang cukup pelik, lantas dia mengesankan kepada pembaca seakan-akan dia yang telah membahas permasalahan tersebut. Padahal dia hanya menukil atau meringkas.
c. Saya juga mendapati sebagian orang tatkala menyalurkan sumbangan dari para donatur, mengesankan kepada para penerima sumbangan seakan-akan dialah yang telah mengeluarkan dana. Padahal dia hanya sebagai penyalur.
d. Sebagian orang yang dipercayai para donatur luar negeri untuk membangun masjid kadang mengesankan kepada para donatur bahwasanya dia mampu membangun masjid yang bagus dengan dana yang sedikit. Padahal, perkaranya tidak demikian, karena sebagian dana bersumber dari masyarkat setempat.
Syukurlah, kepiluan hati ini terobati tatkala melihat betapa banyak saudara-saudaraku, baik yang belajar di Madinah, Qosim, Yaman, bahkan yang tidak pernah belajar Timur Tengah sekalipun, banyak berkarya dengan karya-karya ilmiah yang menunjukkan kepiawaian ilmu mereka. Segala puji bagi Allah atas nikmat yang telah Ia anugerahkan kepada mereka.
Pelajaran kedua : Perkataan Syaikh: “Saya harap jangan kauceritakan kepada siapa pun juga, dan lupakanlah pemberian saya ini. Anggap saja seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa,” sungguh menunjukkan ketulusan hati dan keikhlasan niat beliau. Saya teringat nasihat Abu Hazim Salamah bin Dinar:
اُكْتُمْ مِنْ حَسَنَاتِكَ, كَمَا تَكْتُمُ مِنْ سَيِّئَاتِكَ
“Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan kejelekan-kejelekanmu.” (Diriwayatkan oleh Al-Fasawi dalam “Al-Ma’rifah wa At-Tarikh” (1/679), dan Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (3/240), dan Ibnu ‘Asakir dalam tarikh Dimasq (22/68))
Dalam riwayat yang lain beliau berkata:
أَخْفِ حَسَنَتَكَ كَمَا تُخْفِي سَيِّئَتَكَ, وَلاَ تَكُنَنَّ مُعْجَبًا بِعَمَلِكَ, فَلاَ تَدْرِي أَشَقِيٌّ أَنْتَ أَمْ سَعِيْدٌ
“Sembunyikanlah kebaikan-kebaikanmu sebagiamana engkau menyembunyikan keburukan-keburukanmu. Dan janganlah engkau kagum dengan amalan-amalanmu, sesungguhnya engkau tidak tahu apakah engkau termasuk orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang bahagia (masuk surga).” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman no 6500)
Maka, mencermati apa yang dilakukan oleh Syaikh sebagaimana dalam cerita di atas, saya yakin semua itu beliau lakukan karena keikhlasan. Karena beliau tidak mau tersohor. Dan, bukankah Nabi shallallahu 'alihi wa sallam bersabda:
مَنْ تَوَاضَعَ لله رَفَعَهُ اللهُ
Barang siapa yang bersikap tawadhuk (merendah) maka Allah akan mengangkatnya. (Hadits shahih dishahihkan oleh syaikh Al-Albani dalam as-Shahihah no 2328)
Demikianlah, sikap beliau yang tidak ingin dipuji dan tidak ingin tersohor justru yang membuat beliau tersohor.
Para pembaca budiman, demikanlah kira-kira sosok Syaikh Abdurrozzaq, yang semua ini semakin menambah keraguan saya untuk melanjutkan kisah tentang beliau selama saya menemani perjalanan beliau di Indonesia. Sekali lagi, keraguan tersebut akhirnya terkalahkan mengingat banyaknya faedah yang bisa diambil, serta permintaan dari banyak pihak yang menghendaki saya melanjutkan menulisnya semata-mata agar lebih luas manfaat tersebut tersebarkan.
bersambung ...
Teladan Akhlak Ulama Masa Kini 4
Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr, hafizhahullah
Oleh: Abu Abdil Muhsin Firanda]
Oleh: Abu Abdil Muhsin Firanda]
DAKWAH TANPA MEMBEDAKAN GOLONGAN
Kok, Syaikh Bisa Mengisi Ceramah di Radiorodja?
Sebenarnya, sudah lama kru Radiorodja berkeingingan mengundang Syaikh Abdurrozaq untuk mengisi di Radiorodja. Pihak Radiorodja meminta saya menyampaikan hal tersebut kepada beliau. Namun, tiap kali saya berniat menyampaikannya, selalu saya urungkan saat melihat kesibukan Syaikh yang begitu banyak. Lagi pula tergambar di benak saya berbagai kesulitan teknis dalam melangsungkan penyiaran tersebut.
Kok, Syaikh Bisa Mengisi Ceramah di Radiorodja?
Sebenarnya, sudah lama kru Radiorodja berkeingingan mengundang Syaikh Abdurrozaq untuk mengisi di Radiorodja. Pihak Radiorodja meminta saya menyampaikan hal tersebut kepada beliau. Namun, tiap kali saya berniat menyampaikannya, selalu saya urungkan saat melihat kesibukan Syaikh yang begitu banyak. Lagi pula tergambar di benak saya berbagai kesulitan teknis dalam melangsungkan penyiaran tersebut.
Menggunakan skype adalah salah satu teknis yang memungkinkan. Tetapi seperti kita ketahui, skype sering ngadat. Jika hal itu terjadi pada saat Syaikh memberikan ceramah, tentu akan merepotkan beliau. Namun, berhubung keinginan untuk menyiarkan ceramah Syaikh Abdurrozaq di Radiorodja begitu besar, saya pun nekat menyampaikannya kepada beliau.
“Syaikh, saya menyampaikan permintaan teman-teman di Radiorodja agar Syaikh mengisi kajian rutin, seminggu sekali.”
Dan, jawaban beliau sungguh-sungguh di luar dugaan saya. Syaikh berkata: “Saya siap mengisi kajian setiap hari.”
Saya takjub sekaligus bingung mendengar jawaban tersebut, karena justru sayalah yang tidak siap. Saya pun menawarkan kepada beliau untuk mengisi kajian sepekan dua kali, dengan mempertimbangkan kesiapan dari berbagai teknisnya. Alhamdulillah, Syaikh setuju dengan usulan tersebut.
Akhirnya, dimulailah kajian tersebut dengan menggunakan perangkat komputer desktop dilengkapi program skype. Dua buah kursi menghadap komputer dan sebuah mic eksternal. Syaikh mempersilakan saya duduk di kursi yang bagus dan empuk, sedangkan beliau memilih kursi yang jelek dan datar tanpa spon. Tentu saja saya menolak penawaran beliau, akan tetapi beliau bersikeras agar saya duduk di kursi yang bagus. Akhirnya saya pun menurut. [1]
Proses siaran berlangsung dengan peralatan yang sederhana. Selama kajian, kami ditemani ceret kecil berisi minuman; terkadang teh, jahe, atau minuman beraroma kayu manis. Di awal kajian, di mana saya sedang menyiapkan komputer dan membuka program skype, tanpa terlihat sungkan, Syaikh menuangkan minuman ke dalam cangkir dan menghidangkannya untuk kami. Demikian juga jika di tengah-tengah kajian, Syaikh melihat cangkir saya sudah kosong beliau tidak segan mengisinya lagi.
Ketika saya menerjemahkan materi ceramah, Syaikh benar-benar memerhatikan, siapa tahu ada yang terlewatkan. Jika saya salah dalam mengulangi ayat atau hadits yang beliau sampaikan, maka beliau langsung menegur dan mengoreksinya. Pernah sekali beliau membaca sebuah ayat dalam surat Al-An’am yang sangat panjang. Sebenarnya saya pernah menghafal ayat itu, tetapi saat itu saya lupa. Padahal Syaikh baru saja selesai menejelaskan kandungan makna ayat tersebut dan saya harus menerjemahkannya. Saya gugup dan keringat bercucuran di kening saya. Bagaimana saya menjelaskan isi ayat tersebut sementara saya tidak menghafalnya?
Alhamdulillah, Syaikh mengetahui masalah yang sedang saya hadapi. Ketika saya mulai menerjemahkan pembukaan ayat tersebut, maka tanpa saya minta, Syaikh menulis teks ayat di atas sebuah kertas, lalu menyodorkannya kepada saya. Legalah hati saya karena teks tersebut memudahkan proses penerjemahan.
Oleh karenanya melalui goresan tangan ini saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada para pendengar setia Radiorodja atas kesilapan saya selama ini dalam menerjemahkan nasehat-nasehat syaikh. Sebenarnya masih ada teman-teman yang lain di kota Madinah yang berhak dan pantas untuk menerjemahkan, dan saya sudah berusaha mengundurkan diri dari penerjemahan, hanya saja syaikh yang meminta saya untuk meneruskan penerjemahan.[2]
Seperti saya singgung sebelumnya, program skype sering ngadat. Saat itu terjadi, hati saya sesak. Bagaimana tidak? Saat Syaikh sedang menyampaikan kajian, tiba-tiba sambungan terputus. Tidak jarang, skype ngadat sampai berkali-kali sehingga syaikh harus mengulang-ngulang kembali kajiannya. Begitupun saya, harus mengulang-ulang terjemahannya. Dalam keadaan semacam ini, saya lagi-lagi dibuat kagum pada kesabaran Syaikh. Beliau tetap tenang dan tidak menampakkan kekesalan sama sekali. Tetap dengan semangat, beliau mengulang-ulang materi ceramah beliau. Sikap beliau inilah yang membuat saya lebih tenang. Syaikh saja tenang, kok malah saya yang susah dan gelisah?
Pribadi yang Disiplin
Karena kajian dimulai langsung setelah shalat Asar, saya harus shalat Asar di masjid Syaikh Abdul Muhsin Al-’Abbad. Setelah shalat Asar, kami langsung menuju rumah beliau yang jaraknya sekitar 100 meter dari masjid, untuk segera mengisi kajian. Sering ada jamaah yang memiliki keperluan dengan beliau dan ingin bertemu selepas shalat Asar, tetapi beliau hanya menjawab salam dan meminta udzur sembari berkata, “Maaf para ikhwah sekalian, sekarang saya harus mengajar,” lalu beliau beranjak.
Demikianlah Syaikh Abdurrozzaq apabila telah melazimi sebuah pengajian maka beliau akan disiplin. Jika beliau telah menetapkan pengajian mulai selepas shalat Asar maka tetap harus jalan, bahkan terkadang ada orang penting yang ingin bertemu dengan beliau, bahkan kerabat beliau, maka beliau tunda pertemuan dengan mereka setelah mengisi pengajian di Radiorodja.
Di kalangan mahasiswa, Syaikh Abdurrozzaq dikenal sebagai orang yang sangat disiplin dan tepat waktu. Para mahasiswa yang dibimbing oleh beliau dalam menulis tesis, tentulah tidak merasa asing akan kedisiplinan beliau. Saya pun termasuk yang berada dalam bimbingan beliau. Untuk itu, banyak para senior dan kakak angkatan saya yang mengingatkan akan hal tersebut. Bahkan, ada yang mengingatkan, “Hati-hati Firanda, jangan sampai terlambat waktu isyraf (waktu bimbingan, seminggu sekali), meskipun hanya satu menit. Karena kebiasaan Syaikh, kalau ada muridnya yang terlambat meskipun hanya lima menit maka akan ditegur dengan keras.”
Tentu saja, saat pertama kali mendapat peringatan semacam ini dari kakak angkatan, saya kaget. Namun, di sisi lain, saya pun bersyukur, berpikir positif bahwa dengan begitu maka saya akan semakin termotivasi untuk menyerahkan tesis pada waktunya. Lagipula, kalau dipikirkan lagi, sikap tegas dan disiplin Syaikh ini bukan untuk kemaslahatan beliau akan tetapi demi kemaslahatan para mahasiswa itu sendiri.
Begitulah, selama beliau mengajar satu semester, yakni semester pertama kuliah Hadits, aku menyaksikan sendiri bagaimana beliau selalu tepat waktu, baik saat masuk kelas maupun saat keluar kelas. Pernah terjadi, syaikh lain yang mengajar sebelum beliau, memperpanjang waktu kuliah hingga beberapa menit masuk ke dalam jam kuliah beliau. Maka, beliau mengetuk pintu kelas sambil memberi salam kepada syaikh tersebut, lantas beliau menasihati sang Syaikh dengan perkataan, “Maaf, Syaikh, waktu istirahat buat mahasiswa jangan diambil.”
Dalam pergantian mata kuliah, memang ada jeda sekitar 5 – 10 menit yang biasa digunakan oleh mahasiswa untuk istirahat. Maka Syaikh tersebut pun berkata, “Na’am, na’am…!” dengan wajah tersipu-sipu dan penuh rasa malu.
Lihatlah, dalam masalah seperti ini beliau tidak basa-basi, dan tetap menegur syaikh lain yang tidak disiplin dalam jam mengajar. Rupanya, teguran beliau tidak terlupakan oleh sang Syaikh, sehingga pada kesempatan mengajar berikutnya, sang Syaikh sudah bersiap-siap agar tidak kebablasan lagi, sampai-sampai berkata, “Wahai para mahasiswa, jika sudah hampir habis waktu tolong ingatkan saya, agar kita tidak ditegur lagi oleh Syaikh Abdurrozzaq.”
Demikianlah Syaikh Abdurrozzaq, disiplin dalam mengajar sebagai dosen di universitas dan demikian juga disiplin dalam mengisi pengajian. Maka, tentulah demikian saat beliau mengisi pengajian di Radiorodja. Saya ingat betul bagaimana beliau selalu berusaha tidak absen dalam jadwal pengajian.
Saat pengajian telah berlangsung tiga atau empat kali, beliau teringat akan salah satu janji beliau sebelumnya untuk menemani Ibunda beliau melakukan umrah. Jadwal keberangkatan ke Mekah dari Madinah rupanya bertabrakan dengan jadwal pengajian di Radiorodja. Maka beliau sempat bingung dan bimbang.
Saya sampaikan kepada beliau, “Tidak apa-apa, Syaikh. Pekan ini kita liburkan dulu, atau kita ganti jadwal di hari lain.”
Maka beliau berkata, “Tidak bisa begitu, Firanda, aku tidak ingin mengubah jadwal. Kasihan kalau ada pendengar yang menunggu. Semoga saja jadwal keberangkatan ke Mekah bisa diubah waktunya. Aku akan kabari engkau nanti sore atau besok.”
Akhirnya, Alhamdulillah, jadwal keberangkatan beliau ke Mekah bisa diubah, dan pengajian berjalan sebagaimana biasanya.
Pernah suatu saat beliau harus bersafar ke kota Riyadh (ibu kota Arab Saudi) untuk mengisi pengajian, dan ternyata jadwal penerbangan ke Riyadh hanya ada dua pilihan, jam 6 sore atau jam 12 malam, sedangakan perjalanan dari Madinah ke riyadh membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Artinya jika syaikh memilih keberangkatan jam 6 sore maka pengajian di Radiorodja harus diliburkan karena tidak akan keburu, namun jika syaikh memilih keberangkatan pukul 12 malam maka beliau akan tiba di bandara Riyadh sekitar pukul 2 dini hari. Namun subhaanallah beliau tetap memilih harus bersafar di tengah malam agar kajian di Radiordja tidak diliburkan.
Bahkan pernah suatu hari, pas di pagi hari istri beliau melahirkan, dan masih harus rawat nginap di rumah sakit bersalin, namun sorenya syaikh masih menyempatkan waktu untuk mengisi pengajian di Radiorodja. Subhaanallah sungguh luar biasa semangat dan kedisiplinan beliau.
Pada kesempatan yang lain, Syaikh mempunyai rencana liburan bersama keluarganya ke luar kota, Thaif, selama sekitar satu minggu. Beliau menelepon saya dan bertanya, “Kajian minggu depan, bagaimana pelaksanaannya?”
Seperti biasa, dengan mudahnya saya menjawab, “Tidak apa-apa, Syaikh. Kajian minggu depan kita liburkan saja dulu.”
“Tidak bisa,” jawab Syaikh. “Ya Firanda, usahakan agar pengajian tidak libur. Coba pikirkan bagaimana jalan keluarnya.”
Sejenak aku memikirkan teknis yang memungkinkan untuk melaksanakan converence. “Ada beberapa yang bisa dilakukan, Syaikh. Pertama, dengan menggunakan sistem converence. Syaikh menyampaikan pengajian dari Thaif, adapun saya menerjemahkan dari Madinah. Atau ada pilihan kedua, saya ikut ke Thaif, dan kita mengisi pengajian bersama seperti biasa.”
Lalu syaikh berkata, “Yang kedua lebih baik. Kalau begitu, engkau ajak keluarga dan anak-anakmu ke Thaif, nanti saya yang atur masalah penginapannya.”
Akhirnya, dengan senang hati saya berangkat ke Thaif bersama keluarga. Apalagi selama ini saya belum pernah ke Thaif, kota yang subur dan indah. Sesampainya di sana, bukan hanya uang penginapan yang diberikan oleh Syaikh, bahkan uang jajan pun kami dapatkan dari beliau. Beliau pun mengajak kami mengunjungi tempat-tempat rekreasi di Thaif, atau minimal beliau menunjukkan jalan untuk bisa sampai ke tempat-tempat tersebut. Beberapa kali beliau menelepon saya, memastikan apakah saya udah sampai di tempat-tempat rekreasi tersebut atau belum.
Beliau juga menunjukkan lokasi restoran Indonesia. Dan kebetulan saat kami di Thaif, salah satu materi pengajian beliau menyinggung tentang wajibnya menaati tata tertib lalu lintas. Setelah dua hari di Thaif, saya pun kembali ke Madinah, sementara beliau masih tetap melanjutkan liburan di Thaif. Setelah sampai di Madinah ternyata Syaikh kembali menelepon dan bertanya kapan sampai di Madinah. Maka saya kabarkan kepada beliau bahwa waktu pulang dari Thaif ke Madinah membutuhkan waktu perjalanan sekitar delapan jam.
“Kok, terlambat?” tanya Syaikh. Sebab, waktu saya berangkat dari Madinah ke Thaif, waktu tempuhnya hanya lima jam dengan kecepatan 160 km/jam.
“Karena saya mengikuti nasihat Syaikh,” kata saya. “Bukankah di Thaif, Syaikh menyampaikan tentang menaati tata tertib lalu lintas? Karena itu, waktu pulang ke Madinah saya menyetir mobil hanya dengan kecepatan 120 km/jam.” [3]
Beliau pun tertawa mendengar penjelasan tersebut.
Kedisiplinan beliau ini tentunya merupakan pelajaran berharga bagi kita para da’i maupun para penuntut ilmu. Betapa seringnya kita terlambat hadir dalam pengajian, dan betapa seringnya para da’i terlambat datang di tempat pengajian, sehingga akhirnya para hadirin juga sudah mengetahui bahwa jam kita jam karet. Secara tidak langsung kitalah para da’i yang mengajari para hadirin untuk jam karet.
Yang lebih menyedihkan lagi, betapa sering para da’i bolong-bolong dalam mengisi pengajian rutin, yang akhirnya membuat para hadirin berkurang sedikit demi sedikit. Bahkan bisa jadi pengajian bisa buyar sama sekali. Oleh karena itu hendaknya kita memberikan contoh kedisiplinan kepada para mad’u.
Perhatikan juga semangat beliau yang bersedia mengisi pengajian di Radiorodja setiap hari, padahal waktu beliau yang sangat sibuk. Namun demikianlah, tidaklah kita menuntut ilmu kecuali untuk bisa berdakwah.
[1] Alhamdulillah sekarang telah tersedia dua kursi yang empuk, sehingga kami berdua sama-sama duduk di kursi yang empuk.
[2] Diantara koreksi yang sering disampaikan kepada saya perihal penerjemahan adalah tempo bicara saya yang begitu cepat. Saya sudah sering berusaha untuk merubah kekurangan saya ini, namun -qodarullah- hingga saat ini masih belum berubah. Bahkan pernah suatu saat saya mengisi pengajian di kota Pekalongan, ketika saya sedang menggebu-gebu menyampaikan kajian, tiba-tiba ada selembar kertas yang disampaikan ke meja podium. Saya pun segera membuka secarik kertas tersebut, ternyata isinya ,"Maaf ustadz, kecepatannya tolong 30 km/jam saja". Sayapun tersenyum menyadari kekurangan saya.
Kesulitan saya untuk merubah cepatnya ritme tempo bicara saya dikarenakan saya besar di kota Sorong Propinsi Irian Jaya. Sejak berumur sebulan saya bertempat tinggal Irian Jaya dan tidak pernah keluar dari Irian Jaya kecuali tatkala berumur 20 tahun. Hal ini sangat mempengaruhi pola ritme bicara saya. Karena penduduk Irian Jaya cepat dalam berbicara. Kami sering menyingkat pembicaraan kami karena saking sepatnya pembicaraan kami. Sebagai contoh, untuk mengatakan "Saya pergi main bola", maka kami ungkapkan dengan singkat, "Sapi main bola".
[3] Oooh iya, mungkin para pembaca agak kaget saya mengendarai mobil dengan kecepatan 160 km/jam. Memang kondisi kendaraan dan jalan raya di Arab Saudi berbeda dengan di Indonesia, rata-rata di Arab Saudi kendaraan ber cc tinggi, selain itu jalan antar kota yang sangat lebar dan cenderung sepi. Hal inilah yang memancing para pengendara mobil mengendarai mobil dengan kecepatan sangat tinggi. Bahkan pernah suatu kali saya naik mobil taksi dari kota Madinah menuju kota Jedah yang berjarak sekitar 400 km, maka sang supir mengendarai kendaraan dengan kecepata 220 km/jam. Tidak ada satu kendaraanpun didepannya kecuali dia melambunginya. Sungguh hal yang sangat mengerikan, sehingga jarak 400 km hanya ditempuh sekitar 2 jam saja. Selama perjalanan jika saya membuka mata maka sungguh mengerikan pemandangan yang ada di hadapan saya, terkadang jantung mau copot rasanya. Saya lebih suka memejamkan mata sambil mengulang-ngulang dzikir Laa Ilaaha illaallohu, siapa tahu terjadi apa-apa ??!!. Saya sendiri yang sudah mengendarai mobil dengan kecepatan 160 km/jam pun terkadang masih diklakson-klakson oleh mobi-mobil yang ada dibelakang yang tentunya melaju dengan kecepatan yang lebih cepat lagi.
Tulisan bagian ke 1
Lanjutan tulisan bagian ke 2
Lanjutan tulisan bagian ke 3
Teladan Akhlak Ulama Masa Kini 2
Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr, hafizhahullah (bagian ke-2)
Oleh: Abu Abdil Muhsin Firanda
Oleh: Abu Abdil Muhsin Firanda
Menolak Penulisan Gelar dan Menolak Tersohor
Sangat sedikit orang yang memiliki gelar dan memang layak memiliki gelar tersebut. Dan lebih sedikit lagi jumlahnya, orang-orang yang enggan mencantumkan gelar-gelar yang layak mereka sandang. Syaikh Abdurrozaq adalah satu di antara yang sedikit tersebut. Saat salah seorang ikhwan dari Indonesia meminta izin untuk menerjemahkan buku beliau yang berjudul Fikhul Ad’iyaa wal Adzkar (Fikh Doa dan Dzikir) ke dalam bahasa Indonesia, beliau mengizinkan dengan syarat: tatkala buku tersebut dicetak, nama beliau hanya ditulis ‘Abdurrozaq bin Abdulmuhsin Al-Badr’, tanpa embel-embel gelaran Profesor Doktor. Begitu pula buku-buku beliau yang dicetak di Arab Saudi maupun di Aljazair (Algeria), semua tanpa embel-embel gelar tersebut. Padahal sudah belasan tahun –bahkan hampir 20 tahun- beliau menyandang gelar professor, mengingat beliau memperoleh gelar tersebut dalam usia yang masih relatif muda. Hal ini dikarenakan karena beliau sangat produktif dalam menelurkan karya-karya ilmiah yang sangat berharga.
Sangat sedikit orang yang memiliki gelar dan memang layak memiliki gelar tersebut. Dan lebih sedikit lagi jumlahnya, orang-orang yang enggan mencantumkan gelar-gelar yang layak mereka sandang. Syaikh Abdurrozaq adalah satu di antara yang sedikit tersebut. Saat salah seorang ikhwan dari Indonesia meminta izin untuk menerjemahkan buku beliau yang berjudul Fikhul Ad’iyaa wal Adzkar (Fikh Doa dan Dzikir) ke dalam bahasa Indonesia, beliau mengizinkan dengan syarat: tatkala buku tersebut dicetak, nama beliau hanya ditulis ‘Abdurrozaq bin Abdulmuhsin Al-Badr’, tanpa embel-embel gelaran Profesor Doktor. Begitu pula buku-buku beliau yang dicetak di Arab Saudi maupun di Aljazair (Algeria), semua tanpa embel-embel gelar tersebut. Padahal sudah belasan tahun –bahkan hampir 20 tahun- beliau menyandang gelar professor, mengingat beliau memperoleh gelar tersebut dalam usia yang masih relatif muda. Hal ini dikarenakan karena beliau sangat produktif dalam menelurkan karya-karya ilmiah yang sangat berharga.
Saat Radiorodja ingin menulis undangan kepada beliau untuk datang ke Indonesia, beliau ingatkan untuk tidak perlu mencantumkan dalam undangan tersebut bahwasanya beliau akan menyampaikan kajian di Masjid Istiqlal yang merupakan masjid terbesar di Indonesia. Beliau katakan cukup dicantumkan bahwa beliau akan mengisi di Radiorodja. Bahkan, tatkala pihak Radiorodja menyampaikan kepada beliau bahwa ada salah satu stasiun televisi yang ingin meliput kajian beliau dan juga ada sebagian wartawan yang ingin mewawancarai beliau maka beliau menolak.
Teladan Akhlak Ulama Masa Kini 1
Mendulang Pelajaran Akhlak
dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr, hafizhahullah
Oleh: Ust. Abu Abdil Muhsin Firanda
dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr, hafizhahullah
Oleh: Ust. Abu Abdil Muhsin Firanda
Prolog
Semangat beribadah terkadang memudar, semangat menuntut ilmu terkadang menyurut. Padahal, dalil akan keutamaan menuntut ilmu telah banyak dihafalkan. Demikanlah, jiwa terkadang dijangkiti rasa malas dan diserang rasa bosan.
Sungguh, betapa banyak orang yang akhirnya kembali bersemangat, bahkan lebih bersemangat dari sebelumnya dan terdorong untuk mencapai derajat yang tinggi disebabkan sejarah yang dibacanya, dikarenakan cerita yang didengarnya. Terlebih lagi jika itu adalah cerita teladan yang didengarnya atau dibacanya dari orang yang hidup di zamannya.
Terkadang, jiwa tatkala diceritakan sejarah para sahabat atau para salafus shalih maka jiwa tersebut akan berbisik seraya mengeluh, “Itu kan cerita orang-orang dulu? Masanya kan berbeda? Kita sekarang berada di zaman penuh fitnah, zaman di mana kita sangat membutuhkan materi… dan tentunya tidak bisa disamakan dengan zaman salafus shalih.”
Demikianlah, jiwa selalu mencari-cari alasan untuk bisa melegitimasi kekurangan yang ada padanya. Namun, bagaimana jika cerita teladan tersebut tentang seorang yang di zamannya…? Terlebih lagi, orang tersebut ternyata masih hidup dan pernah dia temui…? Dan, ternyata kita bisa menimba ilmu darinya…? Tentunya hal ini akan lebih membekas dan memberi perubahan positif terhadap jiwa.
Inilah yang mendorongku memberanikan diri menulis percikan pelajaran yang aku peroleh dari salah seorang ulama di kota Madinah tatkala Allah memberiku kesempatan untuk ber-safar bersama beliau, Profesor Doktor Asy-Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr hafizhahumallahu.
Sungguh, betapa banyak orang yang akhirnya kembali bersemangat, bahkan lebih bersemangat dari sebelumnya dan terdorong untuk mencapai derajat yang tinggi disebabkan sejarah yang dibacanya, dikarenakan cerita yang didengarnya. Terlebih lagi jika itu adalah cerita teladan yang didengarnya atau dibacanya dari orang yang hidup di zamannya.
Terkadang, jiwa tatkala diceritakan sejarah para sahabat atau para salafus shalih maka jiwa tersebut akan berbisik seraya mengeluh, “Itu kan cerita orang-orang dulu? Masanya kan berbeda? Kita sekarang berada di zaman penuh fitnah, zaman di mana kita sangat membutuhkan materi… dan tentunya tidak bisa disamakan dengan zaman salafus shalih.”
Demikianlah, jiwa selalu mencari-cari alasan untuk bisa melegitimasi kekurangan yang ada padanya. Namun, bagaimana jika cerita teladan tersebut tentang seorang yang di zamannya…? Terlebih lagi, orang tersebut ternyata masih hidup dan pernah dia temui…? Dan, ternyata kita bisa menimba ilmu darinya…? Tentunya hal ini akan lebih membekas dan memberi perubahan positif terhadap jiwa.
Inilah yang mendorongku memberanikan diri menulis percikan pelajaran yang aku peroleh dari salah seorang ulama di kota Madinah tatkala Allah memberiku kesempatan untuk ber-safar bersama beliau, Profesor Doktor Asy-Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr hafizhahumallahu.
Tingkatan Dien
BAB 2
TINGKATAN DIEN
Definisi Tingkatan Dien.
Dien adalah keta’atan. Dalam bahasa arab دَانَ لَهُ يَدِيْنُ دِيْنًا maksudnya أَطَاعَهُ mentaatinya. Dien juga disebut millah, dilihat dari segi keta’atan dan kepatuhan kepada syari’at.
Sesungguhnya agama yang diridloi oleh Allah adalah Islam (Qs. Ali Imron: 19)
Sedangkan tingkatan dien itu adalah:
Islam
Menurut bahasa, Islam berarti masuk kedalam kedamaian, dikatakan أَسْلَمَ أَمْرَهُ إِلَى اللهِ Artinya menyerahkan perkaranya kepada Allah. Dikatakan أَسْلَمَ artinya masuk kedalam agama Islam. Sedangkan menurut syara’ Islam berarti pasrah kepada Allah, bertauhid dan tunduk kepadanya, ta’at dan membebaskan diri dari syirik dan pengikutnya.
Iman
Menurut bahasa iman berarti membenarkan disertai percaya dan amanah. Sedangkan menurut syara’ berarti pernyataan dengan lisan, keyakinan dalam hati dan perbuatan dengan anggota badan.
Ihsan
Menurut bahasa ihsan berarti berbuat kebaikan, yakni segala sesuatu yang menyenangkan dan terpuji. Dan kata-kata ihsan mempunyai dua sisi:
Pertama: memberikan kebaikan kepada orang lain.
Kedua : memperbaiki perbuatannya dengan menyempurnakan dan membaikkannya.
Sedangkan ihsan menurut syara’ adalah :
أَنْ تَعْبُدَاللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَّمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ
Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Bisa juga diartikan seseorang mengerjakan kebaikan untuk orang lain serta menahan gangguan, sehingga ia akan mengorbankan kebaikan yang ia miliki untuk orang lain baik itu berupa harta, kedudukan, ilmu, maupun tenaganya.
Makna Beriman Pada Uluhiyah Allah
BAB 1
TAUHID ULUHIYAH
Makna Beriman kepada Uluhiyah Allah
Yaitu meyakini secara pasti bahwa hanya Allah semata yang berhak atas segala bentuk ibadah, baik yang lahir maupun batin. Seperti do’a, tawakkal, istianah, shalat, zakat, puasa dan lain-lain. Jadi, hamba tersebut yakin bahwa Allah adalah al ma’bud yang tidak ada sekutu baginya. Karena itu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.
Dan tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa, tidak ada sesembahan yang hak selain Dia. Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (Qs. Al Baqoroh:163).
Dalam ayat di atas Allah mengabarkan bahwa sesembahan yang haq hanya satu, karena itu dilarang menjadikan sesembahan lain selain dari Allah dan tidak boleh ada yang disembah kecuali Dia.
Minggu, 03 April 2011
Larangan Mencela Sahabat Rasulullah
عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ اْلخُضْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَق مِثْلَ أَحَدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ
Dari Abu Sa’id Al Khudriy Radhiyallahu’anhu beliau berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam telah bersabda: ‘Janganlah kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti gunung uhud tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya. (HR. Bukhari dan Muslim dan Lainnya)
HADITS TAAT PERINTAH DAN LARANGAN RASULULLAH
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ , قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ « كُلُّ أُمَّتِى يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ ، إِلاَّ مَنْ أَبَى » قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ فَمَنْ يَأْبىَ؟ قَالَ : « مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ أَبَى » رواه البخاري
Artinya:
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, berkata, Rasulullah bersabda : "Setiap umatku pasti masuk surga kecuali yang enggan." Para sahabat bertanya: siapakah yang enggan wahai Rasulullah? Maka jawab Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa aalihi wasallam: "siapa yang taat kepadaku maka dia masuk surga,dan siapa yang menyelisihiku maka dialah yang enggan (masuk surga)."
Sabtu, 02 April 2011
Langganan:
Komentar (Atom)









